MEDAN, jurnalfakta1.com – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) melalui Dinas Pendidikan Sumut akan mulai menerapkan sistem sekolah lima hari dalam sepekan, yakni dari Senin hingga Jumat, mulai tahun ajaran baru 2025/2026. Kebijakan ini menjadi langkah strategis guna mencegah maraknya aksi tawuran, penyalahgunaan narkoba, dan keterlibatan pelajar dalam geng motor.
Kepala Dinas Pendidikan Sumut, Alexander Sinulingga, menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan arahan langsung dari Gubernur Sumut Bobby Nasution. “Akan langsung diterapkan pada tahun ajaran baru 2025-2026. Ini sejalan dengan visi Sumut Berkah, membangun provinsi unggul, maju, dan berkelanjutan,” ungkap Alex, Rabu (30/7/2025).
Menurut Alex, sistem sekolah lima hari akan mendorong pelajar menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga pada akhir pekan. Selain memperkuat pengawasan orang tua, kebijakan ini juga diyakini mampu membangun karakter dan kepribadian siswa secara lebih positif.
“Dengan belajar selama lima hari, kita optimis bisa menekan angka tawuran, penyalahgunaan narkoba, dan aktivitas geng motor. Sabtu-Minggu bisa dimanfaatkan untuk kegiatan keluarga, sosial, keagamaan, maupun wisata lokal,” jelasnya.
Lebih lanjut, Alex menyebut bahwa kebijakan ini tidak hanya berdampak pada aspek pendidikan dan keamanan, tetapi juga memberikan ruang bagi sektor pariwisata dan UMKM untuk berkembang. “Hari libur siswa bisa dimanfaatkan untuk mengunjungi tempat wisata lokal, yang tentunya berdampak ekonomi positif,” tambahnya.
Dukungan Akademisi dan Praktisi Pendidikan
Dukungan terhadap kebijakan ini juga datang dari berbagai kalangan, termasuk akademisi dan praktisi pendidikan. Assoc. Prof. Dr. Rudi Salam Sinaga, S.Sos., M.Si, dosen Universitas Medan Area, menilai bahwa kebijakan ini mampu memelihara hubungan sosial antara siswa dan keluarga.
“Penting untuk melihat latar belakang profesi orang tua siswa yang beragam, mulai dari ASN, pegawai swasta, hingga wiraswasta. Hari Sabtu seharusnya bisa dimanfaatkan untuk aktivitas keluarga dan sosial. Ini akan membentengi siswa dari pengaruh negatif seperti narkoba, tawuran, hingga judi online,” ujarnya.
Dr. Mansyur Hidayat Pasaribu, M.Pd., Direktur Pusat Pendidikan Rakyat (Pusdikra) Sumut sekaligus praktisi pendidikan, juga menyambut positif program ini. Menurutnya, pembelajaran lima hari dengan format full day school membuat siswa lebih fokus di sekolah dan cenderung menghabiskan waktu istirahat di rumah karena kelelahan.
“Dengan konsep ini, siswa lebih jarang berkeliaran di luar rumah. Efek psikologisnya pun baik, karena tubuh yang lelah usai belajar seharian membuat mereka memilih istirahat dan berinteraksi dengan keluarga. Ini memperkuat quality time dan mengurangi potensi kenakalan remaja,” ujarnya.
Harapan dan Visi ke Depan
Masdar Tambusai, Kepala SMK APIPSU Medan, menyebut bahwa kebijakan lima hari sekolah ini merupakan pondasi membangun generasi muda yang bukan hanya cerdas secara akademik, tapi juga kuat secara mental, santun secara moral, dan kaya secara kultural.
“Generasi Sumut harus siap menghadapi tantangan masa depan, tidak hanya dengan ilmu, tetapi juga karakter yang kuat. Ini adalah momentum untuk merancang pendidikan yang lebih relevan dengan kebutuhan zaman,” tegas Masdar.
Program ini akan diterapkan serentak pada seluruh jenjang SMA, SMK, dan SLB di Provinsi Sumatera Utara mulai akhir Juli 2025.
Dengan pendekatan kolaboratif antara pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat, Sumatera Utara berharap dapat mencetak generasi muda yang lebih baik—terhindar dari bahaya narkoba, geng motor, dan kekerasan, serta menjadi agen perubahan bagi masa depan bangsa menuju Indonesia Emas 2045.
Editor : Alam Chan

