Selasa, Mei 5, 2026
BerandaBudayaBukan Seremoni! PKBM Mutiara Hati Kirim Pesan Keras

Bukan Seremoni! PKBM Mutiara Hati Kirim Pesan Keras

JAKARTA jurnalfakta1.comUtara — Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di PKBM Mutiara Hati, Sabtu pagi (2/5/2026), menjelma menjadi lebih dari sekadar upacara seremonial. Ia berubah menjadi panggung kesadaran kolektif bahwa pendidikan bukan rutinitas kosong, melainkan medan perjuangan yang tak boleh redup oleh waktu.

Sejak pagi hari, lapangan RT 05 RW 013 Kelurahan Pejagalan telah dipadati barisan peserta didik, mulai dari jenjang PAUD hingga Paket A, B, dan C. Di bawah pengawasan penuh dedikasi dari dewan guru, upacara berlangsung tertib, namun menyimpan denyut energi yang kuat, semangat untuk bangkit, belajar, dan menantang keterbatasan.

Kepala Sekolah PAUD dan PKBM Mutiara Hati, Nanik Sri Utami, tampil dengan amanat yang tidak hanya menggugah, tetapi juga mengguncang kesadaran.

“Hardiknas bukan sekadar seremoni tahunan. Ini adalah panggilan perjuangan. Pendidikan adalah jalan panjang yang menuntut komitmen, dan kita semua adalah pejuangnya,” ujarnya.

Dalam pidatonya, Nanik menekankan bahwa jasa para pahlawan pendidikan tidak boleh berhenti pada seremoni penghormatan. Lebih dari itu, harus diwujudkan dalam langkah nyata yang berdampak.

BACA JUGA:   Kabar Baik! Akses Tol Langsung KM 25 Curug Dibangun, Solusi Atasi Macet Bitung

“Kita mengenang Ki Hajar Dewantara bukan dengan formalitas belaka, tetapi dengan tekad untuk terus mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan adalah fondasi utama masa depan. Tanpa itu, kita hanya akan berjalan tanpa arah,” sambungnya.

Ia juga menyoroti pendidikan sebagai senjata paling ampuh untuk memutus rantai kemiskinan, kebodohan, dan ketertinggalan.

“Jangan pernah anggap pendidikan itu biasa. Di dalamnya ada kekuatan besar. Jika pendidikan kita lemah, maka masa depan kita rapuh. Tapi jika kita kuatkan hari ini, kita sedang membangun generasi yang tangguh, kritis, dan tak mudah tumbang,” tegasnya.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa tanggung jawab pendidikan tidak hanya berada di pundak guru dan sekolah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat.

“Ini bukan tugas satu pihak. Orang tua, lingkungan, bahkan negara harus hadir. Kalau kita abai hari ini, maka kita sedang menyiapkan kegagalan di masa depan,” tutupnya.

Upacara Hardiknas di PKBM Mutiara Hati pun tak lagi sekadar formalitas tahunan. Ia berubah menjadi alarm keras pengingat bahwa kualitas pendidikan adalah harga mati yang tak bisa ditawar.

BACA JUGA:   Komisi I Oleh Soleh: Preman Berkedok Wartawan Juga Harus Ditindak Tegas!

Dari ruang belajar sederhana di sudut Jakarta Utara, lahir tekad yang tidak sederhana pendidikan harus bergerak maju. Sebab jika tidak, ketertinggalan bukan lagi ancaman melainkan kenyataan yang tak terelakkan.

 

Redaksi

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments