JAKARTA, Rabu 18 Februari 2026
jurnalfakta1.com — Kritik tajam terhadap pelaksanaan sidang isbat kembali mencuat. Profesor Sono Saksono, dilansir dari berbagai narasumber, menyebut bahwa sidang isbat atau sidang penentuan awal puasa Ramadan yang rutin digelar pemerintah dinilai hanya menjadi proyek yang menghabiskan anggaran negara tanpa urgensi yang jelas.
Menurut Profesor Sono, secara ilmiah dan astronomi, penentuan awal bulan Hijriah sudah dapat diketahui jauh hari melalui perhitungan yang akurat. Ia menilai, pelaksanaan sidang isbat yang melibatkan banyak pihak, fasilitas, serta anggaran negara, menjadi sesuatu yang tidak efisien.
“Penentuan awal Ramadan secara hisab sudah bisa diketahui dengan pasti. Sidang isbat yang terus dilakukan setiap tahun justru terkesan sebagai kegiatan seremonial yang membebani anggaran,” ujarnya.
Ia juga menyoroti bahwa di era modern, teknologi dan data astronomi telah berkembang pesat. Oleh karena itu, menurutnya, pemerintah seharusnya memanfaatkan pendekatan ilmiah secara maksimal tanpa harus menggelar sidang formal yang memerlukan biaya operasional besar.
Sidang isbat sendiri selama ini diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia dengan melibatkan para ulama, ahli astronomi, perwakilan organisasi Islam, serta instansi terkait. Pemerintah menyatakan sidang tersebut bertujuan untuk memastikan kepastian dan keseragaman awal Ramadan bagi umat Islam di Indonesia.
Namun, kritik yang disampaikan Profesor Sono memicu perdebatan publik mengenai relevansi sidang tersebut di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan tuntutan efisiensi penggunaan anggaran negara.
Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari pihak pemerintah terkait kritik yang disampaikan Profesor Sono Saksono tersebut.
Penulis : Alam Chan
Gambar: Istimewa

