JAKARTA – Kelurahan Pondok Pinang, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, terus memperkuat upaya pengelolaan sampah dari sumbernya. Salah satu langkah yang dilakukan yakni dengan menargetkan pembuatan sebanyak 500 lubang biopori jumbo di wilayah tersebut.
Hingga saat ini, sebanyak 498 unit biopori jumbo telah terealisasi dan tinggal menyelesaikan beberapa unit untuk mencapai target yang telah ditetapkan.
“Untuk biopori jumbo di Kelurahan Pondok Pinang, kurang lebih ada 498 unit yang sudah terlaksana, hampir mendekati target yaitu 500 biopori jumbo. Sementara untuk komposter, saat ini ada sekitar 832 unit yang telah kita distribusikan dan laksanakan di masing-masing warga,” ujar
Camat Kebayoran Lama, Mustofa, saat meninjau teba modern dan lubang biopori jumbo di Taman Hatinya PKK RW 11, Kelurahan Pondok Pinang, Kamis (23/7/2026).
Menurut Mustofa, selain biopori jumbo dan komposter, Kelurahan Pondok Pinang juga terus mengembangkan sistem pengelolaan sampah berbasis lingkungan melalui pembangunan teba modern.
Saat ini, tercatat sebanyak 39 teba modern telah selesai dibuat di Kelurahan Pondok Pinang. Jumlah tersebut bahkan telah melampaui target awal yang ditetapkan sebanyak 17 teba modern.
Mustofa berharap upaya tersebut dapat mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah, khususnya dengan membiasakan pemilahan sampah sejak dari rumah.
“Kami berharap setiap rumah memiliki sistem pemilahan sampah sendiri. Untuk itu PKK dan lainnya harus sama-sama membantu mewujudkan itu semua,” katanya.
Ia menilai, keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat dan seluruh unsur lingkungan. Pemilahan sampah dari sumbernya dinilai menjadi langkah penting untuk mengurangi volume sampah yang dibuang ke tempat pengolahan akhir sekaligus meningkatkan kesadaran warga terhadap kebersihan lingkungan.
Sementara itu, Ketua Kelompok TP PKK RW 11 Kelurahan Pondok Pinang, Rahma, menjelaskan bahwa upaya pengelolaan sampah di lingkungan RW 11 dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat.
Selain menyediakan sarana pengelolaan sampah, para kader lingkungan yang terdiri dari Dasawisma, PKK, dan unsur lainnya juga aktif melakukan sosialisasi serta memasang stiker bertuliskan “Rumah Ini Sudah Melakukan Pemilahan Sampah” di sejumlah rumah warga.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk edukasi sekaligus penanda bahwa warga telah berkomitmen melakukan pemilahan sampah dari rumah masing-masing.
RW 11 juga memiliki bank sampah yang beroperasi setiap Senin pada minggu pertama setiap bulannya. Keberadaan bank sampah tersebut menjadi salah satu upaya untuk mendorong warga memilah dan mengelola sampah yang masih memiliki nilai manfaat.
“Alhamdulillah, setelah kami melakukan beberapa kali sosialisasi mengenai pemilahan sampah, warga sudah sangat antusias untuk melaksanakannya di lingkungan RW 11 ini. Mulai dari pemasangan biopori, pembuatan komposter mini, hingga pemasangan teba yang berada di Taman Hatinya PKK RW 11,” ucap Rahma.
Dengan berbagai program tersebut, Kelurahan Pondok Pinang diharapkan mampu membangun kesadaran masyarakat agar pengelolaan sampah menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari. Kolaborasi antara pemerintah, kader PKK, Dasawisma, kader lingkungan, serta masyarakat menjadi kunci untuk mewujudkan lingkungan yang lebih bersih dan sistem pengelolaan sampah yang dimulai dari tingkat rumah tangga.
Editor: Alam Chan

