JAKARTA SELATAN — Ketika Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan tengah gencar menggaungkan pelayanan publik yang ramah, terbuka, dan mudah diakses masyarakat, muncul cerita berbeda dari Kelurahan Bintaro.
Lurah Bintaro, Riza Fauzi, disebut beberapa kali sulit ditemui saat awak media hendak melakukan konfirmasi. Kedatangan ke kantor kelurahan untuk meminta penjelasan pun belum membuahkan hasil lantaran sang lurah disebut tidak berada di tempat.
Yang membuat situasi semakin menarik, ketika ditanyakan keberadaan Lurah Bintaro kepada salah seorang staf, jawaban yang diterima justru cukup sederhana.
“Kurang tahu ke mana, Pak. Saya dari tadi tidak melihat Pak Lurah,” ujar staf tersebut. Selasa (22/9/2026).
Jawaban itu tentu saja memunculkan pertanyaan sederhana: kalau warga atau wartawan membutuhkan penjelasan langsung, harus mencari Pak Lurah ke mana?
Ironisnya, persoalan ini mencuat ketika Wali Kota Jakarta Selatan, Syafrin Liputo, tengah menekankan pentingnya aparatur pemerintahan memberikan pelayanan terbaik, memperkuat integritas, profesionalisme, serta membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat.
Jangan sampai semangat “pelayanan ramah dan terbuka” hanya terdengar indah saat apel, rapat, atau di atas podium. Sebab bagi masyarakat, ukuran pelayanan bukan sekadar slogan, melainkan seberapa mudah pejabat publik ditemui ketika dibutuhkan.
Kalau lurahnya sulit ditemui, jangan-jangan yang ramah hanya spanduknya.
Kritik masyarakat pun patut menjadi perhatian. Sebab kantor kelurahan bukanlah ruang eksklusif milik pejabat, melainkan tempat pelayanan publik yang semestinya mudah diakses masyarakat.
Apalagi wartawan datang bukan untuk meminta karpet merah. Ada konfirmasi yang perlu disampaikan, ada informasi yang perlu diklarifikasi, dan ada hak publik untuk mendapatkan penjelasan dari pejabat yang berwenang.
Masyarakat tentu berharap pola pelayanan seperti ini tidak kembali membawa suasana lama ketika pejabat pemerintah seolah menjadi “makhluk langka” yang harus dicari keberadaannya ketika hendak dikonfirmasi.
Pada akhirnya, pesan Wali Kota Jakarta Selatan tentang pelayanan yang terbuka akan benar-benar terasa apabila diterapkan sampai ke tingkat kelurahan.
Sebab pelayanan publik bukan lomba mencari pejabat yang paling sulit ditemui.
Dan kalau benar pemerintah ingin membangun pemerintahan yang dekat dengan masyarakat, barangkali pertanyaan paling sederhananya adalah: ketika masyarakat datang, apakah pejabatnya ada?
Penulis: Alam Chan

