Minggu, September 13, 2026
BerandaMegapolitanKisah Haru Paskibraka di Balik Upacara HUT ke-81 RI

Kisah Haru Paskibraka di Balik Upacara HUT ke-81 RI

JAKARTA — Di balik langkah tegap, gerakan yang serempak, dan berkibarnya Sang Merah Putih di halaman Istana Merdeka, tersimpan kisah haru, perjuangan, doa, dan kebanggaan para Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka).

Bagi para Paskibraka yang bertugas dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Senin (17/8/2026), pengalaman tersebut bukan sekadar menjalankan amanah negara, tetapi juga menjadi kenangan yang akan melekat seumur hidup.

Salah satunya dirasakan Maharazthu Rizqhy Ramadhana Chubuyana, Paskibraka asal Provinsi Nusa Tenggara Barat. Dalam Upacara Penurunan Bendera Negara Sang Merah Putih, Maharazthu dipercaya menjalankan tugas sebagai pengerek bendera dalam Kelompok 8.

Ia mengaku bahagia sekaligus terharu karena dapat dipercaya menempati posisi yang menjadi impian banyak anggota Paskibraka.
“Perasaan saya tentu saja bahagia, bahagia terharu karena bisa sampai ke Pasukan 8, yaitu pengerek bendera. Semua impian laki-laki yang Paskibraka pasti ingin jadi Kelompok 8,” tuturnya.

Kebahagiaan serupa dirasakan Atanasius Meyllano Frans Yogar, Paskibraka asal Provinsi Nusa Tenggara Timur, yang dipercaya sebagai Komandan Kelompok 8 dalam prosesi penurunan Sang Merah Putih.

BACA JUGA:   Gubsu Bobby Kolaborasi dengan Polda, TNI, dan Kejaksaan: Segera Eksekusi Sarang Narkoba di Sumut

Atanasius mengaku sejak awal tidak pernah memasang target harus berada di posisi tertentu. Ia hanya mengikuti seluruh proses seleksi dengan keyakinan dan menyerahkan hasilnya kepada Tuhan.
“Ikut saja seleksi, mau sampai mana Tuhan kasih, pasti bersyukur dan menjalankan tugas yang baik,” ujarnya.

Di balik keberhasilannya, doa dan dukungan keluarga menjadi kekuatan tersendiri bagi Atanasius. Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada keluarga dan masyarakat NTT yang terus memberikan dukungan selama dirinya menjalani proses sebagai Paskibraka nasional.

Dengan suara bergetar, Atanasius turut menyampaikan doa dan rasa duka bagi masyarakat NTT yang tengah menghadapi bencana gempa.
“Untuk Bapak, Mama, saudara semua yang ada di NTT, yang sekarang terjadi bencana. Atanasius dari sini dan teman-teman turut berdoa dan mengucapkan turut berduka cita yang sebesar-besarnya karena terjadi gempa yang sangat besar di sana,” ucapnya.

Sementara itu, cerita kebanggaan juga datang dari Neeltje Deliana Insjowi Werimon, Paskibraka asal Provinsi Papua yang dipercaya sebagai pembawa baki dalam prosesi penurunan Bendera Negara Sang Merah Putih.

BACA JUGA:   Edi Kusuma Wijaya: Wujudkan Semangat Gotong Royong di Pinang Griya Permai

Bagi Neeltje, kesempatan menjadi Paskibraka nasional terasa begitu istimewa karena merupakan pengalaman pertamanya mengikuti Paskibraka. Ia bahkan tidak menyangka dapat lolos hingga tingkat nasional dan dipercaya membawa baki.
“Tentunya saya bahagia sekali dan tidak expect sekali karena ini pertama kali saya mengikuti Paskibra, bisa lulus tingkat nasional, bisa menjadi pembawa baki dan bisa membawa nama baik Provinsi Papua,” kata Neeltje.

Di balik keberhasilan para Paskibraka menjalankan tugas, terdapat kerja keras para pembina dan komandan yang mendampingi mereka selama masa persiapan.

Kapten Pnb Bagus Setianto, Komandan Kompi pada Upacara Penurunan Bendera, mengatakan proses latihan berlangsung panjang dan penuh tantangan. Para Paskibraka menjalani latihan sejak pagi hingga sore, bahkan terkadang sampai menjelang malam.

Namun, menurutnya, proses tersebut tidak hanya diisi dengan disiplin dan keseriusan. Kedekatan antara pembina dan para Paskibraka juga dibangun agar mereka mampu menjalankan tugas dengan percaya diri dan penuh kekompakan.
“Selama latihan, tentunya banyak cerita. Kami latihan mulai dari pagi sampai sore, menjelang malam hari terkadang. Di situ banyak cerita yang kita laksanakan, selain tentunya kita juga harus dengan serius, tapi banyak canda tawa terhadap adik-adik. Kita juga harus mendekatkan diri tentunya kepada adik-adik biar pelaksanaan dapat berjalan dengan aman lancar,” kata Kapten Bagus.

BACA JUGA:   Sachrudin Kukuhkan Forum Pelanggan Perumda Tirta Benteng

Kini, setelah seluruh rangkaian tugas ditunaikan, kisah para Paskibraka dan pembina bukan semata tentang suksesnya sebuah prosesi kenegaraan.

Ada kebanggaan karena telah dipercaya mengibarkan dan menurunkan simbol negara. Ada doa untuk keluarga dan daerah asal. Ada pula harapan agar pengalaman menjadi Paskibraka nasional dapat menjadi bekal untuk melangkah lebih jauh di masa depan.

Di balik setiap langkah tegap mereka, tersimpan perjuangan panjang yang akhirnya terbayar di hadapan Merah Putih—sebuah pengalaman yang akan menjadi bagian penting dari perjalanan hidup para generasi muda Indonesia.(AC)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments