Minggu, September 13, 2026
BerandaPeristiwaHari Kemerdekaan, Harapan Tumbuh dari Pengungsian Reok

Hari Kemerdekaan, Harapan Tumbuh dari Pengungsian Reok

NUSA TENGGARA TIMUR — Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), berlangsung dalam suasana berbeda. Di tengah tenda pengungsian pascagempa, masyarakat tidak banyak berharap. Bagi mereka, kemerdekaan kini bermakna sederhana: rasa aman dan kesempatan untuk kembali pulang.

Salah seorang warga, Yuyun Sari, guru asal Kelurahan Mata Air, Kecamatan Reok, seharusnya menghabiskan 17 Agustus bersama murid-muridnya. Berbagai atraksi, termasuk tarian daerah, telah dipersiapkan untuk memeriahkan hari kemerdekaan.

Namun, rencana tersebut buyar setelah gempa mengguncang Reok pada Sabtu subuh, 15 Agustus 2026.
“Sebenarnya kami, saya sebagai guru, saya rindu sekali dengan anak. Karena banyak sekali atraksi yang sudah saya persiapkan,” tutur Yuyun saat ditemui di lokasi pengungsian, Senin (17/8/2026).

Yuyun mengisahkan detik-detik mencekam ketika gempa terjadi. Saat itu ia masih berada di kamar, sementara suaminya baru selesai melaksanakan salat subuh. Guncangan kuat membuat lemari roboh dan menghalangi pintu rumah.
Dalam kondisi panik, Yuyun terpaksa menyelamatkan diri melalui bagian tembok rumah yang runtuh.
“Saya hampir tertindas lemari, tapi saya keluarnya bukan lewat pintu karena pintu sudah terhalang lemari. Saya keluarnya lewat tembok yang roboh,” ungkapnya.

BACA JUGA:   SMK PGRI 11 Ciledug Gelar Kegiatan P5, Dalam Rangka Penguatan Semangat Kewirausahaan Siswa

Tak sempat membawa barang berharga, Yuyun dan keluarganya langsung meninggalkan rumah. Kekhawatiran akan potensi tsunami membuat mereka memilih mencari tempat yang lebih aman.

Kini rumahnya mengalami kerusakan dan tertimpa pohon besar. Trauma akibat gempa juga membuatnya belum berani kembali.
“Langsung ke sini tanpa membawa satu apa pun. Langsung lari. Uang apa pun tidak ada kami ingat. Langsung lari saja. Kami mau pulang ke mana? Karena rumah kami sudah roboh,” katanya.

Di tengah ketidakpastian tersebut, bantuan pemerintah yang disalurkan atas perhatian Presiden Prabowo Subianto menjadi penguat bagi warga terdampak. Bantuan berupa beras, ikan sarden, dan kebutuhan pokok lainnya mulai diterima para pengungsi.

Bagi Yuyun, bantuan tersebut bukan sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bantuan itu menjadi tanda bahwa masyarakat Reok tidak sendirian menghadapi bencana.
“Alhamdulillah sangat terbantu sekali dalam keadaan sekarang. Ini yang namanya keadaan darurat. Dapat bantuan ini sangat membantu,” ujarnya.
“Terima kasih banyak Bapak Presiden Prabowo. Karena kami masih trauma untuk pulang ke rumah,” lanjut Yuyun.

BACA JUGA:   Dilarang Minta THR, Ketua Ormas : Pelaksanaan Aturan Tidak Merata

Cerita serupa disampaikan Destria, warga Reok yang juga harus meninggalkan tempat tinggalnya. Ia masih mengingat kuatnya guncangan saat sebagian warga tengah terlelap.

Setelah keluar rumah, suara alarm di sekitar tempat tinggalnya yang berada di pinggir kali membuat warga semakin panik dan bergegas menyelamatkan diri.
“Itu susah diceritakan, tapi luar biasa bagaimana guncangannya,” kata Destria.

Kedatangan bantuan membuatnya sedikit lega. Ia berharap perhatian terhadap masyarakat NTT terus diberikan, khususnya bagi warga yang terdampak bencana.
“Alhamdulillah senang. Walaupun kami yang orang bilang NTT ini kadang sering dilupakan, apalagi khususnya yang di Manggarai, khususnya di Kecamatan Reok ini. Tapi alhamdulillah tahun ini, bencana kali ini, kami langsung dapat dari Bapak Presiden. Terima kasih banyak,” ucapnya.

Sementara itu, Hendrik, mekanik asal Kupang yang berada di Reok ketika gempa terjadi, memilih berlari menuju bukit setelah warga mengingatkan adanya kemungkinan tsunami.

Setelah situasi dinilai lebih aman, ia kemudian menuju lokasi pengungsian. Menurut Hendrik, bantuan yang diterima sangat membantu warga memenuhi kebutuhan selama berada di tempat pengungsian.
“Kalau bantuan ini cukup membantu,” ujarnya.

BACA JUGA:   Presiden Jokowi Tegaskan Aparat Harus Netral dan Jaga Kedaulatan Rakyat pada Pemilu

Ia berharap perhatian pemerintah terhadap masyarakat NTT terus berlanjut, bukan hanya ketika bencana terjadi.
“Semoga ke depan Bapak Presiden lebih memperhatikan masyarakat di NTT supaya lebih maju dan sejahtera,” harapnya.

Bagi masyarakat Reok, peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI kali ini memang jauh dari suasana yang mereka bayangkan. Tidak ada kemeriahan seperti tahun-tahun sebelumnya. Yuyun tak bisa menggelar atraksi bersama murid-muridnya. Warga masih bergelut dengan trauma, kerusakan rumah, serta ketidakpastian tentang masa depan.

Namun dari balik tenda pengungsian, harapan tetap tumbuh.
“Harapannya Indonesia jaya selalu, makmur selalu, damai selalu. Dan untuk NTT semoga kami tetap baik-baik saja dan bantuan selalu datang untuk kami,” tutur Yuyun.

Bagi warga Reok, kemerdekaan tahun ini menemukan makna yang lebih dalam. Bukan sekadar upacara dan perayaan, melainkan harapan agar bencana segera berlalu, rumah dapat kembali dihuni, roda perekonomian bergerak, dan kehidupan kembali normal.

Di tengah luka akibat gempa, mereka hanya ingin satu hal: bisa pulang dengan aman dan memulai kembali kehidupan.(AC)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments