Medan, jurnalfakta1.com – Suasana Selecta Convention Hall mendadak hening saat Laura, seorang mahasiswi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), berdiri di atas podium. Dalam pidato yang penuh kejujuran, ia membuka lembaran kisahnya tentang keresahan, tentang perjalanan menemukan diri, dan tentang rasa takut yang akhirnya luluh oleh tangan-tangan yang merangkul.
“Semester berikutnya, keraguan itu muncul lagi. Oleh Bapak saya dan ditanyakan lagi. Lalu saya jawab, ‘Pak, aku enggak dikucilkan, aku diterima di sini,’” kata Laura dengan mata berkaca-kaca, Selasa (8/7/2025). Tepuk tangan hangat pun memenuhi ruangan, seolah menjadi pelukan bagi setiap kata yang terucap.
Waktu membuktikan, UMSU bukan hanya kampus yang mengajarkan ilmu. Ia menjelma rumah hangat yang memberi ruang bagi Laura untuk bertumbuh, didengar, bahkan dipercaya memimpin. “Saya tidak pernah menyangka, bahkan saya dipercaya sebagai Sekretaris Komunitas Peradilan Semu, memimpin 17 anggota sebagai Ketua Delegasi Nasional Modcord Competition, menjadi pemateri sekaligus coaching di Universitas Asahan,” ujarnya dengan suara bergetar.
“Toleransi Itu Bukan Jargon”
Laura juga mengenang momen Ramadan tahun lalu, ketika ia ikut dalam program wakaf Al-Qur’an. Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian dari nilai-nilai kebersamaan yang dijalankan.
“Bagi saya, ini bukan sekadar pengalaman lintas iman. Tapi tentang bagaimana kita belajar arti kebersamaan, toleransi, dan kemanusiaan,” ucapnya lirih.
Ia menegaskan, penghargaan terbesar dalam hidup bukanlah gelar ataupun pujian. Tapi nilai-nilai indah yang dibawa pulang dari perjalanan panjang penuh makna.
“Jika teman-teman pernah mendengar kata toleransi, di kampus kita ini itu bukan hanya sebuah jargon. Tapi nilai yang benar-benar dihidupkan di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara,” katanya.
Pantun dan Air Mata
Di akhir pidatonya, Laura tak mampu membendung emosi. Air mata jatuh bersamaan dengan senyum tulus yang menghiasi wajahnya saat melantunkan pantun penuh harap:
“Dari Klaten ke Argentina, tidak lupa ke kota Kudus.
Agar si Kristen ini tidak ke mana-mana.
Adakah S2 beasiswa, Pak, sampai lulus?”
Sontak, seluruh ruangan bergemuruh oleh sorak-sorai. Rektor UMSU, Prof Dr Agussani, tersenyum hangat lalu membalas pantun itu dengan penuh kasih:
“Terbang tinggi si burung cendana, terbang berikut si burung tempua.
Laura jangan ke mana-mana, Ananda telah resmi menjadi mahasiswa S2.”
Suara tepuk tangan pecah, beberapa hadirin terlihat menyeka air mata. Bahkan Mendikdasmen Abdul Mu’ti yang hadir saat itu ikut tersenyum bangga.
“Tadi ada pantun dari Klaten ke Argentina, kemudian ke Kudus. Pesannya saya kira sudah sampai. Insyaallah aspirasinya bisa dipenuhi Pak Rektor,” ujarnya. Dengan nada berseloroh, ia menambahkan, “Kalau Pak Rektor tidak memenuhi, saya akan gunakan otoritas saya sebagai Sekretaris Umum PP Muhammadiyah.”
Apresiasi yang Menyentuh
Di penghujung acara, Laura menyampaikan terima kasih mendalam kepada semua pihak, terutama sang ayah yang dulu sempat ragu melepaskannya kuliah di kampus berbasis Islam.
“Untuk Bapak Rektor, terima kasih atas kepemimpinan yang meneduhkan dan visi besar yang menjadikan UMSU rumah bagi semua anak bangsa, apa pun latar belakang dan keyakinannya,” ucap Laura.
“Bapak bukan hanya membangun kampus dengan fasilitas hebat, tapi juga menanamkan jiwa kemanusiaan dan kebangsaan,” lanjutnya, disambut ribuan pasang mata yang larut dalam haru.
Potret Toleransi di Dunia Pendidikan
Kisah Laura pun viral di media sosial, menuai apresiasi sebagai potret nyata toleransi lintas iman di dunia pendidikan Indonesia. Di tengah hiruk pikuk perbedaan, cerita ini mengingatkan semua orang bahwa keberagaman adalah kekuatan, bukan jurang pemisah.
Di UMSU, Laura menemukan bukan hanya ilmu, tetapi juga keluarga baru. Bukan hanya ruang kelas, tetapi juga ruang hati yang luas untuk semua keyakinan.
Editor : Alam Chan

