Minggu, September 13, 2026
BerandaMegapolitanVerlap ProKlim DKI Jakarta Tinjau Aksi Adaptasi dan Mitigasi Warga di Jaksel

Verlap ProKlim DKI Jakarta Tinjau Aksi Adaptasi dan Mitigasi Warga di Jaksel

JAKARTA SELATAN — Tim Verifikasi Lapangan (Verlap) Program Kampung Iklim (ProKlim) Tingkat Provinsi DKI Jakarta mengunjungi RW 08 Kelurahan Pesanggrahan, Kecamatan Pesanggrahan, dan RW 03 Kelurahan Tanjung Barat, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, Rabu (2/9/2026).

Kunjungan tersebut dilakukan untuk menilai efektivitas berbagai aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang telah diterapkan masyarakat di kedua wilayah.

Ketua Tim Verifikasi Lapangan sekaligus Subkelompok Pemberdayaan Masyarakat Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Nahilul Huda, mengatakan peninjauan dilakukan bersama Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) serta Dinas Pertamanan dan Hutan Kota (Distamhut) DKI Jakarta.
“Di sini kami meninjau aksi adaptasi dan mitigasi yang dilakukan warga. Aksi adaptasi mencakup pengendalian kekeringan, banjir, tanah longsor, peningkatan ketahanan pangan, hingga pengendalian penyakit. Sedangkan aksi mitigasi meliputi pengelolaan sampah dan pemanfaatan energi baru terbarukan,” ujar Nahilul.

Di Kelurahan Tanjung Barat, Lurah Riski Wijaya menjelaskan, pemerintah kelurahan bersama RT, RW, kader, dan masyarakat terus mendorong pembuatan sumur resapan sebagai salah satu langkah mengantisipasi dampak perubahan iklim.

BACA JUGA:   Wali Kota Jakarta Utara Dukung Finalis Putri Anak dan Remaja 2026 Berlaga di Tingkat Nasional

Selain itu, pengurangan volume sampah yang dikirim ke TPST Bantar Gebang menjadi salah satu fokus utama melalui pengolahan sampah secara mandiri di lingkungan warga.
“Sesuai arahan, pengelolaan sampah tidak boleh sekadar dipindahkan, tetapi harus diolah agar membawa manfaat. Ini menjadi komitmen bersama antara warga dan pemerintah demi investasi lingkungan bagi generasi mendatang,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua RW 08 Kelurahan Pesanggrahan, Tengku Zainal, menyebut salah satu keunggulan wilayahnya adalah pengolahan sampah organik secara terpadu.

Dengan memanfaatkan lahan tidur seluas sekitar 1.500 meter persegi, warga mengembangkan budidaya magot Black Soldier Fly (BSF) dan metode Teba Modern untuk mengolah sampah organik.
“Dari 80 hingga 90 kilogram sampah organik sisa rumah tangga per hari, sebagian langsung diolah menggunakan maggot dan habis dalam 24 jam. Sisa dedaunan kering diolah dengan metode Teba Modern menggunakan cairan Biowash hingga menjadi kompos dalam waktu satu bulan untuk mendukung ketahanan pangan,” tuturnya.

Kegiatan verifikasi ini menjadi bagian penting dalam melihat secara langsung sejauh mana keterlibatan masyarakat dalam menghadapi dampak perubahan iklim. Berbagai inovasi pengelolaan lingkungan di tingkat RW diharapkan tidak hanya memenuhi indikator penilaian ProKlim, tetapi juga dapat menjadi praktik berkelanjutan yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

BACA JUGA:   Pemkot Jakarta Selatan Gelar Upacara Hari Lahir Pancasila 2026, Teguhkan Semangat Persatuan dan Kepemimpinan Bangsa

Editor: Alam Chan

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments