Kamis, Oktober 22, 2026
BerandaMegapolitanMilad ke-27 Parmusi DKI Jakarta, Padukan Maulid Nabi dan Pelatihan Public Speaking

Milad ke-27 Parmusi DKI Jakarta, Padukan Maulid Nabi dan Pelatihan Public Speaking

JAKARTA – Pengurus Wilayah Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) DKI Jakarta memanfaatkan momentum Milad ke-27 dengan menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H/2026 M yang dirangkaikan dengan pelatihan public speaking.

Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Serba Guna Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta Timur, Sabtu (26/9/2026).

Mengusung semangat fastabiqul khairat atau berlomba-lomba dalam kebaikan, kegiatan itu tidak hanya diarahkan sebagai agenda peringatan keagamaan, tetapi juga menjadi sarana meningkatkan kapasitas kader dan masyarakat.

Ketua Pengurus Wilayah Parmusi DKI Jakarta, Ambardi, mengatakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tidak semestinya hanya dimaknai sebagai ritual tahunan untuk mengenang perjalanan Rasulullah.

Menurut dia, momentum tersebut dapat menjadi pengingat bagi umat untuk kembali meneladani akhlak dan cara Rasulullah dalam berkomunikasi dengan masyarakat.

“Maulid Nabi Muhammad SAW bukan sekadar ritual tahunan untuk mengenang masa lalu. Momen ini menjadi alarm spiritual yang membangunkan jiwa manusia untuk kembali meneladani Rasulullah SAW, seorang komunikator ulung,” ujar Ambardi.

Ia mengatakan, Rasulullah menyampaikan setiap pesan dengan kejujuran, empati, dan cara yang mampu menyentuh hati masyarakat.

Atas dasar itu, Parmusi DKI Jakarta memadukan peringatan Maulid Nabi dengan pelatihan public speaking. Menurut Ambardi, penggabungan sejumlah agenda tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjalankan kegiatan secara efektif dan efisien.

BACA JUGA:   Camat Makasar Monitoring PSN di RT 003 RW 002 Kelurahan Kebon Pala

“Kalau ditanya ide, kita cari waktu yang bisa untuk kegiatan Parmusi menjelang milad. Dengan ada kata milad itulah kita cari bagaimana caranya agar milad itu meriah dan bermanfaat umat dan masyarakat,” kata Ambardi.

“Kebetulan ada bulan Maulid, makanya kita satukan tujuannya. Salah satunya adalah efisiensi. Istilahnya satu kali dayung beberapa pulau terlampaui. Sekarang kan zamannya lagi efisiensi, tetapi target atau tujuan tetap tercapai dengan baik,” lanjutnya.

Ambardi menambahkan, pemberdayaan umat melalui peningkatan kapasitas kader bukan kali pertama dilakukan Parmusi DKI Jakarta.

Sebelumnya, organisasi tersebut juga menggelar program pemberdayaan bagi para dai, termasuk pelatihan dakwah digital agar para dai mampu mengikuti perkembangan teknologi dalam menyampaikan pesan keagamaan.

“Kegiatan pemberdayaan umat seperti ini bukan pertama kali. Sebelumnya, kita sudah mengadakan pemberdayaan untuk para dai. Kami ingin bagaimana dai bisa menguasai bidang digital dalam berdakwah,” tuturnya.

Ia berharap pelatihan public speaking dapat membekali para kader dan tokoh masyarakat Parmusi agar mampu menjadi komunikator yang baik sekaligus membawa pesan organisasi kepada masyarakat.

“Di Parmusi ini banyak tokoh-tokoh masyarakat. Maka kami merasa perlu membekali agar mereka-mereka ini nanti bisa menjadi duta-dutanya Parmusi yang baik,” ujar Ambardi.

Belajar Berdakwah dengan Santun

Da’i sekaligus pemateri pelatihan public speaking, Suryadi H Rahman, mengatakan kemampuan berkomunikasi menjadi bagian penting dalam menyampaikan dakwah.

BACA JUGA:   Gubsu Bobby Kolaborasi dengan Polda, TNI, dan Kejaksaan: Segera Eksekusi Sarang Narkoba di Sumut

Menurut dia, pesan yang baik perlu disampaikan dengan cara yang baik pula agar dapat diterima masyarakat secara tepat.

“Selain ingin mendapatkan keberkahan dari Allah SWT, pengurus Parmusi DKI Jakarta juga memiliki harapan kepada kader-kader Parmusi untuk berdakwah dengan baik dan santun seperti yang diajarkan Rasulullah SAW,” kata Suryadi.

Ia mengatakan, pelatihan tersebut diharapkan dapat menjadi bekal bagi para dai dan dai’ah agar lebih percaya diri ketika menyampaikan materi di hadapan masyarakat.

“Melalui ilmu public speaking ini kita memberikan modal buat teman-teman dai-dai’ah ini agar ketika berdakwah mereka sudah mendapatkan ilmu, tidak grogi dan sebagainya,” ujarnya.

Suryadi menilai kemampuan berbicara di depan publik tidak sekadar persoalan menguasai panggung. Lebih dari itu, seorang pendakwah dituntut mampu merangkai kata sehingga pesan kebaikan dapat disampaikan secara menarik, santun, dan mudah dipahami.

Menurut dia, kemampuan tersebut menjadi bagian dari semangat fastabiqul khairat, yakni berlomba-lomba menghadirkan kebaikan di tengah masyarakat.

Shalat sebagai Fondasi

Sebelum pelatihan public speaking dimulai, Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Parmusi, KH Tairman Elon, memberikan tausiyah dalam rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Dalam tausiyahnya, KH Tairman Elon mengulas sejumlah ayat dalam Surat Al-Mu’minun mengenai keberuntungan dan kesuksesan yang dikaitkan dengan keimanan dan pelaksanaan ibadah.

BACA JUGA:   Wali Kota Jakarta Pusat Buka Resmi UKW Angkatan ke-66 PWI Jaya

Ia menekankan pentingnya memperbaiki hubungan manusia dengan Allah SWT, salah satunya melalui pelaksanaan shalat secara khusyuk.

“Dalam cerita di Al-Qur’an, jelas menyebutkan bahwa jika kamu ingin sukses, tenang, menang dan bahagia, maka shalat harus khusyuk dan menjalankan kewajiban yang sudah dituntut oleh Rasulullah SAW. Copy paste saja, jangan mikir yang lain. Yang utamanya adalah shalat yang khusyuk,” kata KH Tairman Elon.

Menurut dia, ketenangan dan kedamaian dalam kehidupan dapat dimulai dari upaya memperbaiki hubungan manusia dengan Sang Pencipta.

Karena itu, kekhusyukan dalam shalat dinilai bukan hanya berkaitan dengan gerakan dan bacaan, tetapi juga menghadirkan ketenangan, kepasrahan, serta hati yang sepenuhnya menghadap Allah SWT.

Melalui rangkaian Maulid Nabi dan pelatihan public speaking tersebut, Parmusi DKI Jakarta berupaya mengembangkan kapasitas kader sekaligus memperkuat nilai-nilai keislaman dalam kehidupan bermasyarakat.

Semangat peningkatan kapasitas itu diarahkan agar kemampuan berkomunikasi tidak berhenti pada penguasaan teknik berbicara, tetapi juga menjadi sarana menyampaikan pesan perdamaian, keadilan, dan tuntunan Islam secara fasih, tegas, serta tetap menyejukkan.

Semangat tersebut kemudian dipadukan dengan nilai fastabiqul khairat: mengajak umat untuk tidak sekadar menjadi penonton, tetapi mengambil bagian dalam menghadirkan kebaikan di tengah masyarakat.(AC)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments